Sabtu, 11 Mei 2013

How To GetYour Dreams


How to get your dreams.

Semua orang pasti ketika masih kecil mempunyai mimpi dan cita-cita yang luarbiasa. Walaupun ketika itu kita belum tau bagaimana cara mewujudkan mimpi itu, sulitkah atau segampang dan sesederhana ketika kita merangkai mimpi dan cita-cita.
Namun, semakin kita tumbuh dewasa dan mulai merasakan apa itu kehidupan, ternyata mewujudkan mimpi itu tidak mudah dan butuh perjuangan. Bahkan semakin kita beranjak dewasa, beberapa orang bahkan lebih dari 85% merasakan bagaimana hidup mulai melencengkan arah kita menuju cita-cita dan mimpi yang awalnya kita rangkai. Bandingan dengan dulu yang kita mimpikan dan cita-citakan, contohnya ketika kecil kita ingin menjadi seorang dokter, dan ternyata ketika menginjakan ke bangku kuliah, justru bidang yang dapat kita tempuh malah berbeda jauh dengan apa yang dulu kita mimpikan. Mengapa? Pertanyakan kembali pada dirimu sendiri. Saya ingin berbagi sebuah perumpaan atau filosofi kehidupan yang mungkin dapat membantu anda menjawab pertanyaan diatas.
Ada sepasang suami istri yang baru saja menikah. Karena mereka adalah keluarga muda dan baru, suaminya membeli sebuah apertemen untuk istrinya tercinta. Namun sayang apartemen yang dia beli tersedia di lantai 72.
Setelah membeli apartemen, sepasang suami istri ini pun membeli beberapa perabotan kecil untuk apartemen mereka ini. Dan dengan tidak sabar sangat ingin melihat bagaimana bagusnya apartemen yang baru mereka beli ini. Dengan hati yang penasaran, mereka segera melangkahkan kaki menuju apartemen mereka yang berada dilantai 72.
Namun, sayangnya, ketika mereka ingin menaiki lift, lift tersebut macet. Karena hati yang sudah sangat penasaran dan tidak sabar, maka suami istri ini memutuskan untuk menaiki tangga darurat saja menuju apartemen mereka dilantai 72. Lantai pertama, kedua, ketiga mereka lalui masih dengan penuh semangat besar,senandung, dan hati yang girang, sampai pada lantai 12. Lantai selanjutnya mereka lalui masih tetap dengan hati riang namun sudah mulai kekurangan semangat karena capek, sampai pada lantai 21. Mungkin karena mulai capek dan dikarenakan membawa beberapa tas yang berisikan keperluan mereka, maka akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan beberapa tas itu dilantai 21. Lanjutlah mereka menaiki tangga demi tangga sampai pada lantai 45. Ketika sampai pada lantai 45, suami istri ini menaiki tangga demi tangga namun dengan beberapa keluhan, dan saling menyalahkan satu sama lain. Sang istri menyalahkan sang suami yang membeli apartemen dilantai yg terlalu atas, dan sang suami menyalahkan sang istri yang tidak sabar menunggu sampai lift tadi berfungsi dengan benar sehingga mereka tidak perlu dengan susah payah menaiki tangga demi tangga seperti yang mereka lakukan sekarang. Namun walaupun dengan keluh kesah dan pertengkaran saling menyalahkan satu sama lain, mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka menaiki setiap anak tangga.
Sampailah mereka di lantai 65. Mungkin dikarenakan rasa capek, dan lelah dengan pertengkaran mereka, keduanya pun saling diam dan tidak melakukan respon atau reaksi satu sama lain, tapi masi tetap menaiki tangga demi tangga, karena tinggal 7 lantai lagi mereka akan sampai di lantai 72. Tangga demi tangga mereka lalui, namun kembali mulai ada rasa semangat karena mereka merasa sedikit lagi akan sampai pada tujuan mereka.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya sampailah mereka dilantai 72. Tentunya dengan wajah dan hati yang kembali gembira juga dengan semangat karena sebentar lagi mereka sampai di tujuan mereka. Langkah demi langkah mereka jalani menuju ruangan mereka. Dan ketika sampai didepan pintu apartemen mereka, mereka baru menyadari bahwa kunci apartemen mereka tertinggal dalam tas yang ada dilantai 21 yang mereka tinggal sebelumnya.

Sejauh filosofi hidup yang saya ceritakan, teman-teman bisa ambil kesimpulan dan arti dari ceritanya ga?
Oke, saya kasi pandangan dan arti dari filosofi cerita tadi.
Anggaplah, apartemen bagus dan baru yang ada dilantai 72 itu adalah mimpi kamu. Dan pasangan suami istri itu adalah diri kamu sendiri. Ketika kita masih anak-anak sampai menuju masa remaja sekitar umur 12thn, dengan mudahnya merangkai sebuah mimpi dan cita-cita, dan dengan harapan besar juga semangat yang tinggi, kita menjalani hari-hari kita menuju mimpi kita itu. Tapi, ketika mulai tumbuh semakin dewasa, kita dengan perlahan malah mulai membelokan langkah kita menuju sesuatu yang bahkan bisa jauh dari mimpi kita sebelumnya. Ketika kita lulus dalam universitas, menginjak umur 21thn, kita mulai berpikir, pekerjaan apa saja akan saya ambil asalkan itu sudah bisa mencukupi kehidupan kita, dan setidaknya kita bisa mendapat pekerjaan, bukan seorang pengangguran. Padahal, justru pemikiran kita itu yang merupakan salah satu penyebab kita melenceng dari tujuan mimpi kita, dan mulai melupakan mimpi kita itu.
Ketika kita mulai beranjak ke umur 45thn, kita mulai merasa bosan dengan apa yang kita jalani, karena sebenarnya apa yang kita jalani bukan diri kita,dan justru bukan hal yang kita impikan selama ini. Mulai timbul kekesalan dalam hati dan mengeluh, bahkan terkadang kita mengeluh bisa menyalahkan orang lain atau pun Sang Pencipta, kenapa jalan kita harus seperti ini. Padahal sebenarnya, Sang Pencipta itu memberikan free wheel, kebebasan dalam memilih dan menjalani hidup kita, namun tetap dibarengi dengan segala tanggung jawab dan ada.
Namun, ketika kita berada pada usia 65thn, kita sudah mulai capek mengeluh dengan apa yang kita alami, karena kita berpikir semuanya sudah terjadi, tidak perlu disesali, dan malah kita terdiam hanya dengan malnjutkan sisa hidup yang ada dengan berharap diakhir tua nanti setidaknya kita mendapatkan hasil apa yang kita jalani sekarang.
Ketika berumur sekitar 72thn, seharusnya kita senang dan menikmati apa yang selama ini kita kerjakan dan kita jalani walaupun bukan apa yang sebenarnya kita cita-citakan dan impikan. Dan dengan ada penyeselan, kita akan kembali mengingat apa yang dulu kita cita-citakan dan kita impikan ternyata itu mungkin bisa lebih dari apa yang kita dapati kini. Dan akan ada timbul rasa penyesalan, kenapa ketika kita masih muda, ketika berumur sekitar 21thn, kita tidak berusaha lebih keras dan giat untuk mengejar mimpi dan cita-cita kita dan meninggalkannya. Kenapa kita terlalu terburu-buru mencari sesuatu yang lebih gampang dan tidak ingin mencoba lebih keras lagi untuk mulai menyusun langkah demi langkah kedepan meraih mimpi kita.
Itulah kita manusia, karena tidak ingin susah dan terlalu berpasrah dengan keadaan, maksud saya dengan tidak ada usah yang lebih keras sampai pada titik kemampuan kita, kita terlalu menyerah pada keadaan dan hanya ingin mendapatkan apa yang cepat tersedia tanpa berpikir kedepan, dan bahkan mengabaikan mimpi yang justru sangat ingin kita wujudkan.
Bermimpi atau bercita-cita itu bebas! Apapun yang terlintas dipikiran kamu, dan itu yang sangat kamu inginkan, itu adalah mimpimu dan WUJUDKAN itu! Tidak hanya dengan bermimpi, tapi harus kita barengi dengan keinginan untuk mewujudkan mimpi kita itu. Dengan segala usaha yang kita punya. Untuk mewujudkan mimpi, kita butuh DUIT(dedikasi, usaha, inisiatif, Tuhan).
Ketika kita berhasil mewujudkan mimpi dan cita-cita kita, akan ada rasa kepuasan tersendiri dan kemampuan untuk menunjukan bahwa ‘INILAH AKU, DAN AKU MAMPU MEWUJUDKAN APA YANG MENJADI TUJUANKU DALAM HIDUP’.
Belum ada kata terlambat untuk kalian sekarang. Kembali pikrikan apa mimpi kalian, dan bangun kembali segala usaha kalian. Selama ada usaha, pasti ada jalan!
Semoga apa yang saya bagikan kepada teman-teman dapat berguna, dan dapat memberikan motivasi kepada kalian. Ini juga untuk diri saya sendiri yang kemudian ingin saya bagi kepada teman-teman. Selamat merangkai mimpi menjadi kenyataan! J

0 komentar:

Posting Komentar

© Nessa's Diary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena