RESENSI
FILM HABIBIE dan AINUN
Film ini menceritakan secara lengkap kisah hidup dan
perjuangan bahtera rumah tangga B.J Habibie bersama Ainun dari awal jumpa
hingga Ibu Ainun akhirnya berada dalam dimensi lain.
Dimulai dengan bertemunya kembali Habibie dengan Ainun di
kediaman keluarga Besari (Keluarga Ainun) setelah hampir 7 tahun tidak bertemu.
Pertemuan malam Idul Fitri itu menyisakan kenangan rindu bagi Habibie muda akan
pandangan mata menyejukkan yang diberikan oleh Ainun muda kala itu. Proses
pertunangan dan pernikahan yang cukup cepat, namun dilakukan dengan kepastian
jiwa dan kekuatan cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi serta
keyaninan bahwa Allah SWT selalu akan menemani, memungkinkan keduanya yakin
untuk bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga di rantau (Jerman) mengingat
masa cuti Habibie yang hanya 3 bulan akan segera habis.
Setibanya mereka di Jerman berbekal 2 koper berdua,
disanalah perjuangan mereka dimulai. Sebuah kisah inspiratif yang patut
dijadikan contoh sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah, insya Allah.
Betapa Ibu Ainun sangat mendukung pekerjaan dan tugas
Bapak Habibie dengan tanpa mengeluh selalu mencoba melakukan tugas dan
kegiatannya dengan sebaiknya tanpa mengganggu konsentrasi perhatian dan
pekerjaan Habibie. Memberikan masukan intelektual dan pertimbangan juga saran
yang saling mendukung satu sama lain. Selalu menjaga dan mengontrol kesehatan
Habibie dengan menyediakan makanan sehat juga senyum menawan yang selalu
dirindukan Habibie.
Sebaliknya Habibie juga selalu melibatkan Ainun dalam
setiap kegiatannya, menceritakan dan meminta pertimbangan istrinya untuk setiap
keputusan yang akan diambil. Benar-benar perpaduan yang harmonis indah romantis
atas dasar cinta.
Dibagian tengah cerita, sebuah kesadaran pun ingin
ditularkan oleh penulis kepada seluruh pembacanya (bahkan mungkin penonton
filmnya). Bahwasanya semangat nasionalisme haruslah selalu dipupuk dan
dikembangkan dalam setiap jiwa insan bangsa Indonesia. Sebagai contoh, penulis
yang saat itu adalah CEO sebuah perusahaan penerbangan terkenal terkemuka di
Jerman, rela meninggalkan semuanya dan bersama keluarga kembali ke Indonesia
tercinta untuk tujuan mulia mengabdi dan mengembangkan negara tercinta dengan
ilmu yang didapatkan dengan daya upaya sendiri.
Nampak pula peran
maksimal seorang istri bagi Habibie dalam semua aktivitas barunya. Seorang
tokoh teknologi yang menjadi tokoh politik, presiden ketiga Republik Indonesia.
Oleh sebab itu, sangatlah pantas jika dalam pidatonya dalam tiap kesempatan
(penghargaan teknologi, penganugerahan gelar, dsb) sering Habibie menyampaikan
bahwa di balik sukses seorang
tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan
istri.
Di akhir cerita, tergambar dengan jelas keterkaitan
Habibie Ainun satu sama lainnya. Keduanya saling menjaga mendoakan yang terbaik
bagi masing-masing. Ada kejadian yang menurut saya sangat menyentuh yaitu
ketika Ibu Ainun di ICCU, Pak Habibie yang telah menjadi kebiasaan pukul 10
pagi selalu tiba di ICCU pada hari itu harus terlambat datang karena dilarang
masuk sebab tim dokter sedang melalukan operasi mendadak. Ketika Habibie akhirnya
masuk 2 jam kemudian, didapatinya Ainun sedang menangis. Kenapa? Karena
khawatir terjadi sesuatu dengan Habibie sebab dia terlambat datang. Sungguh
indah bukan. Kedua sangat memperhatikan kondisi masing-masing, meskipun dalam
keadaan sehat atau sakit.
Akhirnya saya tuliskan disini, doa Habibie untuk Ainun
yang telah berpindah ke alam dan dimensi baru.
Doa Habibie
& Ainun
Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk
Ainun dan Ainun untuk saya
Terima kasih Allah, Engkau telah pertemukan saya dengan Ainun
dan Ainun dengan saya
Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962 Engkau
titipi kami bibit Cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat
pada diri Ainun dan saya
Terima kasih Allah Engkau telah memungkinkan kami
menyiram bibit cinta ini dengan kasih sayang nilai iman, takwa dan budaya kami
tiap saat sepanjang masa
Terima kasih Allah Engkau telah menikahkan Ainun dan saya
sebagai suami istri tak terpisahkan dimanapun kami berada sepanjang masa
Terima kasih Allah Engkau telah perkenankan Ainun dan
saya bernaung dan berlindung dibawah bibit cinta titipanMu ini dimanapun kami
berada, sepanjang masa sampai Akhirat
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami dapat
menyaksikan merasakan menikmati dan mengalami titipanMu menjadi cinta yang
paling murni paling suci paling sejati paling sempurna dan paling abadi di
seluruh alam semesta dan sifat ini hanya dapat dimiliki oleh Engkau Allah
Terima kasih Allah Engkau telah menjadi Ainun dan saya
manunggal jiwa, roh, batin, dan nurani kami melekat pada diri kami sepanjang
masa dimanapun kami berada
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan semua
terjadi sebelum Ainun dan saya Tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 untuk sementara
dipisahkan. Ainun berada dalam Alam baru dan saya sementara masih di Alam dunia
Terima kasih Allah perpisahan kami berlangsung damai
tenang khidmat dengan keyakinan bahwa kebijaksanaanMu adalah terbaik untuk
Ainun dan saya
Berilah Ainun dan saya petunjuk mengambil jalan yang
benar kekuatan untuk mengatasi apa yang sedang dan akan kami hadapi dimanapun
kami berada
lindungilah Ainun dan saya dari segala Gangguan ancaraman
dan godaan yang dapat mencemari cinta murni suci sejati sempurna abadi kami
sepanjang masa
amin.
PENILAIAN
Secara garis besar, "Habibie & Ainun" yang
diangkat dari buku berjudul sama karangan BJ Habibie ini memang berfokus pada
kisah cinta BJ Habibie (yang ternyata dipanggil "Rudy" di masa
mudanya) dengan Hasrie Ainun Besari. Semenjak awal film memang keduanya
seolah sudah ditakdirkan berjodoh. Idiom "gula jawa, gula
pasir" dalam film ini cukup membuat kita tertawa kecil dan menggambarkan
karakter Rudy Habibie yang blak-blakan.
Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, HABIBIE &
AINUN tetaplah film yang layak ditonton. Apresiasi patut disematkan pada usaha
Faozan Rizal yang sebelumnya berjibaku sebagai director of photography.