Jumat, 26 Desember 2014

E-Government System dalam Pelayanan Publik

E-Government System dalam Pelayanan Publik


Teknologi merupakan bentuk perkembangan jaman. Seluruh manusia di muka bumi dipaksa untuk membuka mata pada perubahan teknologi yang sedemikian cepat dan mempengarhi segala aspek kehidupan. Tak dipungkiri, kemajuan teknologi mempercepat segalanya, termasuk pelayanan publik. Sudah bukan rahasia umum jika pelayanan publik di negeri ini dapat dikatakan jauh panggang dari api. Cepat hanya untuk pihak-pihak tertentu. Keberadaan teknologi diharapkan menjadi jawaban untuk menyamaratakan kecepatan pelayanan.
Teknologi internet yang kini sudah mendarahdaging harus dimanfaatkan secara optimal. Sebuah kemajuan jika pemerintah mulai mengadopsi teknologi tersebut sebagai infrastruktur utama pelayanan publik. Dalam tulisan berikut mencoba menguraikan seberapa besar pemerintah serius menggarap e-government system dalam pelayanan publik.
A. Pelayanan Publik Yang Efektif Dan Komunikatif
Hampir setiap warga negara akan berurusan dengan instansi pemerintahan untuk keperluan administrasi publik. Beraneka dokumen kependudukan dan dokumen usaha, mengharuskan warga negara harus berinteraksi dengan para aparat pemerintah di berbagai lembaga. Sayangnya pelayanan yang diberikan hingga kini dinilai belum memuaskan. Keberadaan Unit Pelayanan Satu Atap (UPTSA) di tingkat pemerintah kota atau kabupaten, belum memberikan layanan yang efektif bahkan masih jauh untuk dapat dikatakan komunikatif.
Pelayanan Negara terhadap warga negaranya merupakan amanat yang tercantum dalam UUD 1945 dan diperjelas kembali dalam UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. UU Pelayanan Publik mengatur prinsip-prinsip pemerintahan yang baik agar fungsi-fungsi pemerintahan berjalan efektif. Pelayanan publik dilakukan oleh instansi pemerintahan atau koporasi untuk dapat memperkuat demokrasi dan hak asasi manusia, mempromosikan kemakmuran ekonomi, kohesi sosial, mengurangi kemiskinan, meningkatkan perlindungan lingkungan, bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam, memperdalam kepercayaan pada pemerintahan dan administrasi publik.
Beragam lembaga penyedia layanan publik milik pemerintah hendaknya berkaca dari pengalaman masa lalu, saat banyak kritikan diarahkan untuk perbaikan kualitas pelayanan publik.  Lembaga-lembaga pemerintah selalu kedodoran dalam menyediakan pelayanan publik. Pengurusan KTP, Surat Izin Mengemudi (SIM), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), sulitnya memperoleh layanan pendidikan yang mudah dan bermutu, layanan kesehatan yang tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, dan sebagainya, merupakan sebagian kecil dari contoh kesemrawutan pelayanan publik oleh pemerintah. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan semangat reformasi yang sudah berjalan selama lebih dari satu dekade.
Faktor utama yang menjadi penghambat dalam pelayanan publik yang baik dapat dilihat dari dua sisi, yakni birokrasi dan standar pelayanan publik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam tubuh pemerintahan negara Indonesia pada semua jenjang dan jenisnya memiliki sturuktur birokrasi yang panjang, gemuk, dan berbelit. Akibatnya, urusan di lembaga penyedia layanan publik menjadi  berbelit-belitnya dan membutuhkan waktu yang lebih lama serta biaya tinggi. Selain itu, ketiadaan standarisasi pelayanan publik yang dapat menjadi pedoman bagi setiap aparat pemerintah adalah sisi lain yang menjadi kelemahan pemerintah dalam memberikan pelayanan publik yang baik. Indonesia sebagai sebuah negara besar yang sedang membangun, harus menyadari jika kebutuhan pelayanan publik yang baik dan berkualitas adalah mutlak.
Di era informasi, pelayanan publik mengahadapi tantangan yang sangat besar. Hal ini berkaitan dengan relasi antara negara dengan pasar, negara dengan warganya, dan pasar dengan warga.  Dahulu, negara memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling dominan dalam pelayanan publik. Pasar dan warga negara mau tidak mau harus menerima kondisi pelayanan publik yang tersedia. Tidak sedikit warga negara yang merasa kecewa dengan pelayanan publik yang berpihak pada golongan tertentu, komunikasi yang dibangun oleh aparat penyedia layanan tidak ramah dan cenderung berbelit-belit (tidak efektif).  Seiring dengan perkembangan jaman dan logika, kondisi pelayanan publik yang disediakan mendapat kritikan dari berbagai pihak untuk memperbaiki kualitas komunikasi dan pengelolaan pelayanannya, mengingat tidak semua warga negara dapat menikmati aksesibilitas pelayanan publik yang efektif. Padahal sebagai amanat perundangan, pelayanan publik seharusnya menyentuh semua lapisan tanpa terkecuali dan tetap menjaga etika pelayanan.
B. Adopsi E-Government System
Di hampir semua negara maju di Amerika dan Eropa, pelayanan publik telah mengandalkan teknologi komunikasi dan informasi. Artinya, semua proses layanan publik dapat diakses oleh seluruh warga negara secara terintegrasi dengan cepat. Sistem layanan tersebut dikenal dengan sebutan e-government system. Tujuan besar penerapan e-government system adalah untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, dimana layanan pemerintahan bersifat transparan, akuntabel, dan bebas korupsi. E-government system pada hakikatnya merupakan proses pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi sebagai alat untuk membantu jalannya sistem pemerintahan dan pelayanan public yang lebih efektif dan efisien (Sosiawan, 2008). Dalam penyelenggaraannya, e-government systemmengacu pada dua hal, yaitu penggunaan teknologi informasi yang memanfaatkan jaringan internet dan terbangunnya sebuah sistem baru dalam tata kelola pemerintahan. Namun sayangnya, selama ini penafsiran penggunaan teknologi elektronik hanya sebatas alat manual dengan komputer sebagai sarana pelayanan di lembaga penyedia layanan publik.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, diperlukan suatu sistem komunikasi agar terjalin komunikasi efektif dan memiliki makna yang mampu mengarahkan pencapaian tujuan pembangunan. Hal itu perlu sekali dilakukan karena proses pembangunan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Buruknya citra pelayanan publik di Indonesia perlu berkaca pada populernya e-government system di Negara Barat. Maka tahun 2002, e-government system mulai diadopsi di Indonesia sebagai sebuah inovasi baru dalam bidang kepemerintahan. E-government systemmerupakan sebuah difusi teknologi, yang secara teoritis berarti proses tersebarnya suatu inovasi ke dalam sistem sosial melalui saluran komunikasi selama periode waktu tertentu (Rogers dan Shoemaker, 1987). Dalam kaitannya dengan sistem sosial, difusi juga merupakan suatu jenis perubahan sosial, yaitu proses terjadinya perubahan struktur dan fungsi dalam suatu sistem sosial. Ketika inovasi baru diciptakan, disebarkan, dan diadopsi atau ditolak masyarakat, maka konsekuensinya yang utama adalah terjadinya perubahan sosial.
Implementasi e-government system yang mendominasi di seluruh dunia saat ini berupa integrasi data kependudukan secara nasional dan pelayanan pendaftaran warga negara antara lain pendaftaran kelahiran, pernikahan, kematian, penggantian alamat, dan perpajakan. Disinilah peran pemerintah sebagai koordinator utama untuk menciptakan lingkungan penyelenggaraan pemerintahan. Agar pelayanan publik berjalan lebih efektif, perlu ada dorongan pada pemerintah agar menyegerakan penerapan e-government system (Shalahuddin dan Rusli, 2005).
Pemerintah dapat memanfaatkan peluang dari teknologi yang digunakan dalam e-government system yaitu teknologi informasi dan komunikasi, mengingat kelak masyarakat memiliki alternatif dalam mengakses pelayanan publik secara tradisional maupun modern (Indrajit, 2002). Namun demikian, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah saat menerapkan e-government system, yaitu :
· Kebutuhan masyarakat menjadi prioritas utama dalam pelayanan pemerintah. Pemerintah seyogyanya tidak lagi memposisikan sebagai pihak yang dominan, tetapi mempertimbangkan posisinya sebagai penyedia layanan bagi masyarakat.
· Ketersediaan sumber daya, baik dari sisi warga negara maupun pihak pemerintah. Sumber daya dimaknai sebagai sumber daya manusia yang terampil dan ketersediaan sumberdaya teknologi yang merata.
C. Kesiapan Infrastruktur Dan Sumber Daya Manusia
Bukan sesuatu yang aneh jika masyarakat Indonesia masih gagap dengan perkembangan teknologi. Keberadaan teknologi baru digunakan sebatas untuk hal-hal yang bersifat hiburan, termasuk oleh para aparat pemerintah. Dalam Information Seeking Theory yang diungkapkan Donohew dan Tipton (dalam Badri, 2008), penerimaan seseorang atau sekelompok masyarakat pada teknologi terjadi secara bertahap, yaitu tahap pencarian, penginderaan, dan pemrosesan informasi. Ketiga tahap ini berakar dari pemikiran psikologi sosial tentang sikap manusia. Secara tidak sadar, orang cenderung untuk menghindari informasi yang tidak sesuai dengangambaran nyata suatu informasi atau teknologi, karena kedua hal itu bisa saja membahayakan.
Di Indonesia, rata-rata penduduknya masih sangat awam pada perkembangan dan inovasi tekologi. Akibatnya pembangunan yang merujuk pada penemuan dan aplikasi inovasi sering berjalan lambat karena proses yang pertama kali harus dilakukan adalah memberikan pemahaman pada pemanfaatan teknologi baru. Tidak berhenti sampai disitu. Mengingat pada kehidupan masyarakat pedesaan atau tempat-tempat yang jauh dari ibukota negara dan yang masih sangat tradisional, penolakan pada teknologi teramat besar.
Sebagai negara berkembang (The Third World), pemanfaatan aplikasi e-government system di Indonesia sebenarnya tidak termasuk menggembirakan. Padahal pemerintah sudah berusaha untuk merumuskan beberapa peraturan perundangan terkait dengan teknologi informasi, seperti Inpres No. 6 tahun 2001 tentang Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia dan Inpres No. 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government.
Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, tampak sekali bahwa aplikasi dan implementasi e-government system di Indonesia masih tertinggal. Saat ini sebenarnya perangkat perundangan mengenai e-government system di Indonesia sudah cukup lengkap (Kumorotomo, 2008). Melalui Inpres No. 3 tahun 2003 tentang Strategi Pengembangan E-Government telah memandatkan :
· Pengembangan sistem pelayanan yang andal dan terpercaya serta terjangkau oleh masyarakat luas.
· Penataan sistem manajemen dan proses kerja pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara holistik.
· Pemanfaatan teknologi informasi secara optimal.
· Peningkatan peran-serta dunia usaha dan pengembangan industri telekomunikasi dan teknologi informasi.
· Pengembangan sumberdaya manusia di pemerintahan dan peningkatan e-literacymasyarakat.
· Pelaksanaan pengembangan secara sistematis melalui tahapan yang realistis dan terukur.
Ada permasalahan kompleks yang dihadapi dalam penerapan penerapan e-government system untuk perbaikan tata kelola pemerintahan. Masalah utamanya adalah resistensi dan kebimbangan saat menyikapi adanya inovasi baru untuk mendobrak kebiasaan lama. Kumorotomo (2008) merangkum dalam tiga aspek besar permasalahan dalam penerapan e-government system, yaitu :
1. Aspek Budaya
· Resistensi dan penolakan dari masyarakat dan jajaran aparat pemerintah terhadape-government system.
· Kurangnya kesadaran pada manfaat dan penghargaan terhadap teknologi yang dipergunakan dalam e-government system.
· Keengganan berbagi data dan informasi, agar terintegrasi secara nasional di seluruh lembaga penyedia layanan publik.
2. Aspek Kepemimpinan
· Terjadi konflik kepentingan di tingkat pemerintah pusat dan daerah.
· Peraturan yang belum tersosialisasikan dan penerapannya belum merata.
· Pengalokasian anggaran untuk pembangunan infrastruktur pelayanan publik yang memanfaatkan e-government system dalam APBN / APBD belum menjadi prioritas.
3. Aspek Infrastruktur
· Adanya ketimpangan digital yang mengakibatkan belum meratanya ketersediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, mengingat secara geografis wilayah Indonesia tersebar di berbagai kepulauan.
· Ketersediaan infrastruktur untuk pengadaan teknologi informasi dan komunikasi masih terpusat di kota-kota besar. Tenaga ahli di daerah terpencil pun masih sangat jarang, jika tidak mau dikatakan tidak ada.
· Sistem layanan publik di Indonesia tidak memiliki standar yang baku. Hal ini menghambat pengintegrasian data kependudukan dan dokumen warga negara lainnya secara nasional.
D. Tantangan Pengembangan E-Government System
Sudah saatnya pelayanan publik berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dan terintegrasinya data kependudukan untuk mempermudah pengurusan dokumen dan layanan publik lainnya. Apabila pelayanan yang dilakukan menggunakan perspektif masyarakat sebagai pelanggan, maka keikutsertaan masyarakat sebagai pihak pengontrol tata kelola pemerintahan merupakan legitmasi dari masyarakat.Pelayanan yang berkualitas tidak hanya untuk lembaga penyelenggara jasa komersial (swasta), tetapi sudah harus merembes ke lembaga-lembaga pemerintahan yang selama ini resisten terhadap tuntutan akan kualitas pelayanan publik (Trilestari, 2004).
Tujuan besar dari penerapan e-government system adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. E-government system dapat mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang transaparan, akuntabel, bebas korupsi, ramping birokrasi, dan  meningkatkan partisipasi warga negara dalam kontrol penyelenggaraan pemerintahan. Pelayanan publik yang baik, efektif, dan efisien, dapat menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan di suatu negara. Mungkinkah hal tersebut terjadi di Indonesia? Jawabannya sangat mungkin. Pemerintah perlu menyediakan secara proporsional tenaga ahli di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam tubuh lembaga pemerintahan dan penyedia layanan publik, serta menjembatani kesenjangan aksesibilitas teknologi di seluruh wilayah Indonesia.
Lingkup pengembangan e-government system mencakup skala nasional. Maka diperlukan kerangka komunikasi antar sistem e-government di daerah untuk saling berhubungan dan saling bekerjasama. Dalam implementasinya, perlu ada mekanisme komunikasi baku antar sistem, sehingga masing-masing sistem aplikasi dapat saling bersinergi untuk membentuk e-government services yang lebih besar dan kompleks.
Semenjak 2004, pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika telah membuat blue-print untuk pengembangan aplikasi sistem e-government. Dalam lembar cetak biru tersebut telah dijelaskan bagaimana penggunaan dan pengkoneksian jaringan di tingkat daerah maupun pusat. Hal-hal yang sudah tertuang dalam blue print itu seyogyanya dapat dimanfaatkan oleh instansi pemerintah untuk menjawab tantangan pelayanan publik yang lebih modern dan efektif.
Implementasi e-government system di Indonesia masih separuh jalan dan masih jauh di bawah standar yang ideal dan yang diinginkan. Agar mencapai kondisi yang ideal, harus dilakukan penyempurnaan konsep dan strategi pelaksanaan e-government system dari berbagai sisi. Berkaca dari Kabupaten Sragen yang sudah menerapkan e-government system dalam penyelenggaraan pemerintahan dari tingkat Kabupaten hingga Desa, menjadi bukti jika teknologi informasi dan komunikasi dapat diterapkan di Indonesia dan menjadi sarana terpenting dalam perbaikan tata kelola pemerintahan.
Read More

Java Community Process

Java Community Process


Java Community Process (JCP) merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa pihak terkait dan mempunyai proses mekanisme formal  untuk melakukan pengembangan terhadap teknologi Java itu sendiri. Para pihak terkait ini bisa menjadi member atau anggota JCP dengan melakukan registrasi. Untuk melakukan pengembangan ini diperlukan Java Specification Request (JSR). Apa itu JSR? Dari penjelasan yang saya baca pada halaman jcp.org, Java Spesification Request (JSR) merupakan sebuah dokumen yang diserahkan kepada PMO (Program Management Office) oleh satu atau beberapa orang (komunitas) untuk mengusulkan pengembangan spesifikasi baru atau perbaikan yang signifikan ke spesifikasi yang sudah ada. Hal ini juga digunakan untuk acuan sebuah proyek yang dihasilkan untuk mengembangkan spesifikasi Java.

Java Specification Request (JSR) juga mempunyai status yang diberikan untuk spesifikasi pengembangan proyek. Yang termasuk status JSR antara lain: Active, Final, Maintenance, Inactive, Withdrwan, Rejected, dan Dormant. Untuk penjelasan status JRS lebih lengkap bisa dilihat pada link berikuthttps://jcp.org/en/introduction/glossary.

Diatas tadi disebutkan adanya Program Managemen Office (PMO). Definisi PMO adalah kelompok dalam Oracle Amerika yang bertanggung jawab untuk mengelola JCP dan memimpin ECEC ( Executive Committee) adalah para anggota yang memandu evolusi teknologi Java. EC harus dipilih atau disrankan oleh suara dari anggota JCP untuk melayani EC.

Java Community Process ini mempunyai empat langkah utama. Empat langkah utama tersebut antara lain:

1.      Initiation (Inisiasi)
Sebuah spesifikasi yang diresmikan oleh anggota komunitas dan disetujui untuk melakukan pengembangan oleh Executive Committee. Terkadang ada JSR baru yang diterima setiap minggunya.

2.      Early Draft Review (Ulasan Draft Awal)
Setelah JSR disetujui, sekelompok ahli dibentuk untuk membuat draft pertama dari spesifikasi dari kedua pihak yakni komunitas dan review EC. Anggota yang telah menandatangani JSPA dan ingin mencalonkan ahli untuk melayani pada satu atau lebih dari kelompok ahli dapat melakukannya dengan mengirimkan permintaan nominasi atau calon.

Ketika kelompok ahli menyelesaikan draft pertama spesikasi mereka, mereka akan membuat Early Draft Review tersebut tersedia untuk umum. Kelompok ahli menggunakan umpan balik dari review untuk merevisi dan menyempurnakan draft

3.      Public Draft (Draft Umum)
Draft JSR diumumkan untuk ditinjau oleh publik dimana siapa saja dengan koneksi internet dapat membaca dan mengomentari draft. Pada akhir review, EC memutuskan apakah rancangan tersebut harus dilanjutkan ke langkah berikutnya. Kelompok ahli menggunakan umpan balik dari masyarakat untuk lebih merevisi dokumen ke Proposed Final Draft atau Ulasan Draft Final. Pemimpin kelompok ahli kemudian melihat bahwa implementasi referensi teknologi terkait yang mempunyai Compability Kit) dilengkapi sebelum spesifikasi dikirim kepada EC untuk persetujuan akhir. Setelah disetujui, spesifikasi, implementasi, dan referensi akhir dan Technology Compability Kit diterbitkan.

4.      Maintenance (Pemeliharaan)
Spesikasi yang telah lengkap, referensi implementas, dan Technologi Compability Kit diperbarui dalam menanggapi permintaan yang sedang berlangsung untuk diklarifikasi, interpretasi, perangkat tambahan, dan revisi. Pengumpulan suara dari EC digunakan untuk menyetujui semua usulan perubahan spesifikasi untuk segera dilakukan atau menolak perubahan dan dengan demikian baik membutuhkan Maintenance Lead untuk menyerahkan daftar revisi perubahan, atau menunda perubahan sampai spesifikasi dapat direvisi oleh kelompok ahli dalam JSR baru. Satu atau lebih tes tantangan dalam spesifikasi Technology Compability Kit pada akhirnya diputuskan oleh EC jika mereka tidak dapat dinyatakan selesai.

Kesimpulan:
Java Community Process dibuat untuk dilakukan pengembangan spesifikasi terhadap teknologi Java. Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh individu atau beberapa orang yang terkait dalam komunitas tertentu yang sudah tergabung atau terdaftar pada JCP.

Pengembangan spesifikasi ini dilakukan melalui empat tahap besar yakni Initiation, Early Draft Review, Public Draft, dan Maintenance. Masing-masing tahap mempunyai proses untuk pengembangan spesifikasi Java

Demikian penjelasan mengenai Java Community Process yang saya buat. Apabila ada kekurangan dimohon masukkan dari pembaca. Untuk penjelasan lebih lengkap dapat dilihat pada alamat jcp.org
Read More

Rabu, 05 November 2014

Analisis e-government

ANALISIS PELAKSANAAN e-GOVERNMENT DI PEMERINTAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN


1.       LATAR BELAKANG

                Kita semua pasti sepakat begitupun pemerintah kabupaten Musi banyu asin, bahwa penggunaan e-government bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pemerintah daerah dalam proses pelaksanaan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJM) dan rencana pembangunan jangka panjang daerah dengan memasukan secara intensif teknolagi informasi sebagai perangkat pendukungnya. Untuk mewujudkan pemerintahan berbasis elektronik yang dapat  menghasilkan layanan public yang adil , transparan, efisien dan manfaatnya di rasakan oleh semua warga masyarakat tanpa kecuali adalah merupakan salah satu tujuan pengembangan e-government. Desakan masyarakat yang terus berkembang untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik adalah alas an yang kuat bagi para aparat pemerintah kabupaten Musi Banyu asin untuk selalu memenuhinya
            E-Government adalah sebagai upaya pemanfaatan dan pendayagunaan telematika untuk meningkatkan pelayanan pemerintah yang cepat dan menurunkan biaya administrasi, memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas, dan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab serta transparan kepada masyarakat.
            Untuk membangun MUBA lima tahun ke depan, Pahri-Beni (Bupati-Wakil bupati Muba) sudah menyusun visi-misi pemerintah kabupaten MUBA yaitu PERMATA MUBA 2017 yang memiliki akronim penguatan ekonomi rakyat,religious,maju,adil,terdepan dan maju bersama. PERMATA MUBA 2017 membutuhkan sosialisasi yang dilakukan secara efektif, terstruktur,sistimasif dan massif. Dalam kontek ini peranan teknologi informasi dan komunikasi di butuhkan untuk menjangkau seluruh masyarakat agar memperoleh informasi yang akurat dan komperhensif tentang PERMATA MUBA 2017.Seluruh masyarakat muba harus memahami PERMATA MUBA 2017 sehingga arah dan derap pembangunan berjalan selaras. Ruang partispasi rakyatpun terbuka seluas-luasnya.
            Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pemerintah kabupaten Musi Banyuasin sudah menjadi keharusan dan tidak bias di tawar-tawar lagi karena sudah menjadi salah satu misi pemerintah kabupaten Musi Banyu asin yaitu: membangun pusat-pusat pertumbuhan dan pelayanan indrustri kreatif yang di dukung teknologi informasi dan komunikasi.

2. TUJUAN
Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk mengkaji tingkat keberhasilan pelaksanaan e-gov di pemerintah Kabupaten Musi banyu asin dan mencoba untuk menjelaskan factor-faktor pendukung dan penghambatnya.

3.   FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT DALAM PENERAPAN E-GOV DI DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN KAB. MUSI BANYUASIN    

Ada beberapa factor penghambat yang menyebabkan rendahnya implementasi E-government sehingga tidak seperti yang diharapkan, yaitu:

1.  Rendahnya Political Will dari pemerintah itu sendiri.
            Kenyataan ini dapat dilihat dari tingkat prioritas pemerintah yang mengeluarkan kebijakan E-Gov hanya dengan mengeluarkan Instruksi Presiden. Dalam negara kita mengenal tata aturan perundangan, dimana Inpres menempati posisi dibawah UUD, UU, PERPU dan Kepres.  Inilah yang menjadi permasalahan, Kebijakan Publik berdasarkan Inpres akan dinomor duakan jika berhadapan dengan aturan yang lebih tinggi lainnya, misalnya UU.

2.  Paradigma Lama dalam Aparatur Birokrasi di Indonesia.
           Teknologi informasi khususnya web dan email hanyalah sebatas alat bantu untuk memudahkan kita dalam menyelesaikan pekerjaan saja. anggapan bahwa implementasi situs web pemda merupakan “proyek” sehingga begitu selesai proyek, maka kegiatan tersebut dianggap telah selesai tanpa muncul kesadaran untuk melakukan pemeliharaan dan menegakkan keberlanjutannya.
Yang paling utama dalam implementasi e-government adalah perubahan paradigma dari Government Centric menuju Customer Centric.
Salah satu indikator kegagalan implementasi E-Gov adalah ketidakmampuan aparat birokrasi menjaga web portal untuk selalu up date.  Paradigma proyek masih tertanam dalam kepala para aparat tersebut, sehingga implementasi E-Gov sesuai dengan Inpres No.3 tahun 2007 dianggap sebagai proyek tanpa memikirkan pemanfaatan jangka panjangnya.  Akibatnya menciptakan ketergantungan terhadap ”rekanan tertentu”, yang pada akhirnya akan menjadikan implementasi E-Gov tidak ada bedanya dengan proyek lainnya. Dan jika hal ini terjadi maka tujuan E-Gov yaitu terkait transformasi hubungan antara pemerintah dengan penduduk, swasta (bisnis) dan juga unit pemerintah lainnya tidak akan tercapai, dan malah akan membuka ladang KKN baru bagi birokrat di pemerintahan.

3.   Ketersediaansumberdaya.
Disadari maupun tidak ternyata dukungan sarana dan prasarana turut mensukseskan implementasi E-Gov. Dengan tingkat penggunaan Internet yang hanya sebesar 4% dari total penduduk Indonesia, maka kebijakan ini tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan kebijakan lainnya, yaitu kebijakan pemberian akses informasi sampai level desa dan juga kebijakan untuk meningkatkan pengetahuan bagi penduduk dengan kata lain adanya kesenjangan.
Faktor pendukung, yaitu :
a.    Sarana komputer yang sudah memadai.
b.    Sudah tersedianya sumber daya manusia dan minat yang tinggi dari pegawai dibidang  TIK dalam penggunaan internet, walaupun secara kuantitas dan kualitas belum memadai.
c.    Komitmen Bupati Musi Banyuasin mengenai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi disalah satu misinya.

4.  PEMBAHASAN (Analisis tingkat keberhasilan penerapan e-Gov di Instansi Pemerintah Kabupaten MUBA dan penerapannya di Dinas Pertanian dan Petenakan Kab. Musi Banyuasin)
Sebagaimana yang sudah dijelaskan dimuka e-government adalah sebagai upaya pemanfaatan dan pendaya gunaan telematika untuk meningkatkan pelayanan pemerintah yang cepat dan menurunkan biaya administrasi, memberikan berbagai jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada public secara lebih luas, dan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab serta transparan kepada masyarakat.
Secara tradisional  biasanya interaksi antara seorang warga negara atau institusi sosial dengan badan pemerintah selalu berlangsung  di kantor-kantor pemerintahan. Namun seiring dengan pemunculan tekno
logi informasi dan komunikasi (TIK) semakin memungkinkan untuk mendekatkan pusat-pusat layanan pemerintah kepada setiap klien. Sebagai contoh; jika ada pusat layanan yang tak terlayani oleh badan pemerintah, maka ada kios-kios yang didekatkan  kepada para klien atau dengan penggunaan komputer di rumah atau di kantor-kantor. E-gov memberikan peluang  baru untuk meningkatkan kualitas pemerintahan, dengan cara ditingkatkannya efisiensi, layanan-layanan baru,  peningkatan partisipasi warga dan adanya suatu peningkatan terhadap global information infrastructure.
Secara faktual pelaksanaan e-gov masih dinilai sebagai proyek “gagah-gagahan” atau bahkan hanya proyek yang harus diikuti mirip model pakaian yang lagi ngetrend. Artinya, kebanyakan dari para penyelanggara e-gov baik lembaga pemerintahan maupun lembaga non pemerintahan masih merasa “aman’ dan “nyaman” dengan kepemilikan website tanpa peduli lagi pada optimalisasi pemanfaatan e-gov. Pada sisi lain, ada tuduhan miring yang berkesan seolah-olah e-gov hanyalah proyek “jualan” para “pedagang” teknologi komunikasi dan informasi baik hardware maupun softwarenya.
Ada perubahan yang mencolok seiring istilah e-gov diberlakukan di kalangan pemerintah di Indonesia. Salah satunya adalah semakin banyaknya situs pemerintah daerah (pemda) dan situs departemen/ lembaga yang bermunculan di internet baik itu mulai tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Menurut data Departemen Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini jumlah situs pemda telah mencapai 472 situs. Sayangnya, masih ada situs-situs pemda yang dibuat dengan tampilan halaman depan / homepage dan isi berita yang seadanya. Mulai dari isi berita di dalamnya yang sudah kadaluarsa, atau kalau sudah diperbarui/ update  isinya kurang begitu greget.  Desain dan tata letak homepage situs pemda kadangkala juga terkesan monoton. Akhirnya, seperti yang sering dipaparkan bahwa ada situs pemda yang hanya menjadi “hiasan”, ada situs pemda yang statusnya aktif, tapi kurang ada tanda-tanda “kehidupan”, tidak ada interaksi dari pengunjungnya hingga kurang optimal.
Saat ini banyak lembaga pemerintah yang menyatakan dirinya sudah mengaplikasikan e-Government namun pada kenyataannya lembaga-lembaga pemerintahan tersebut baru dalam tahap  web presence, masih belum terlihat adanya penerapan e-government yang benar-benar dijalankan secara mendalam. Oleh karena itu banyak yang menyatakan bahwa  pelaksanaan e-gov belum optimal karena secara riil beberapa pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah masih menggunakan cara-cara yang manual seperti proses pembuatan akta kelahiran, kartu keluarga, dan lain-lain. Seorang warga harus secara  face to face mendatangi petugas yang bersangkutan di kantor pemerintahan, atau bahkan harus mencari seorang “calo”. Hal ini sangatlah tidak efektif dan efisien karena mengeluarkan biaya yang lebih banyak dari biaya sebenarnya dan juga dirasakan menjadi sangat merepotkan karena harus mendatangi kantor pemerintahan tersebut dan dapat diketahui bahwa implementasi e-gov di Indonesia lebih banyak didominasi oleh situs milik pemprov, pemkab dan pemkot. Namun, situs-situs yang melayani masyarakat dalam urusan umum tersebut masih belum optimal dalam pelaksanaannya baik  kuantitas mapun kualitasnya.  Artinya ada kendala dan hambatan yang dialami oleh pihak pemda dalam hal mewujudkan implementasi e-gov yang ideal.  Oleh karenanya banyak faktor-faktor yang menyebabkan “mandeg” dan kurang optimalnya implementasi e-government antara lain; dari sisi aturan dan pedoman nampaknya pemkab dan pemkot masih “meraba-raba” tentang gambaran yang jelas tentang implementasi e-government akibat belum adanya standardisasi dan sosialisasi yang jelas tentang bagaimana penyelenggaraan situs pemerintah daerah yang riil dan ideal.  Artinya walapun undang-undang, peraturan pemerintah dan petunjuk pedoman sudah ada namun masing-masing pemda masih  menerjemahkannya secara sendiri-sendiri  karena persoalan petunjuk teknis dan operasionalnya yang tidak jelas dan “ngambang’. Maka tidak heran bila masih banyak pegawai pemda yang ditugaskan dalam mengelola e-gov bertanya-tanya seperti apakah e-gov yang ideal itu dari sisi  back office maupun  front office.  Dalam banyak kasus bentuk keluaran situs web pemda hanya sekedar situs lembaga yang berisi layanan informasi saja tanpa ada manfaat lain dari situs tersebut dan ada juga beranggapan bahwa implementasi situs web pemda merupakan “proyek” sehingga begitu selesai proyek, maka kegiatan tersebut dianggap telah selesai tanpa muncul kesadaran untuk melakukan pemeliharaan dan menegakkan keberlanjutannya.
Walaupun inisiatif e-government di Indonesia telah di perkenalkan melalui intruksi presiden No6/2001 tanggal 24 april 2001 namun harus diakui pelaksanaanya di lingkungan pemerintah Kabupaten Musi banyu asin baru mulai di rasakan manfaatnya dalam beberapa tahun belakangan ini saja walaupun belum optimal.
Pelayanan e-Gov melalui internet dapat dibagi dalam beberapa tingkatan yaitu Penyediaaninformasi dan Publikasi situs, Interaksi satu arah (seperti fasilitas download formulir), Interaksi dua arah (seperti Pengumpulan formulir secara online), dan Transaksi/pelayanan secara penuh (seperti pengambilan keputusan atau delivery/pembayaran). Perlu digarisbawahi bahwa e-Gov bukan hanya sekedar publikasi situs oleh pemerintah, namun perlu diupayakan hingga pada pelayanan full electronic delivery service.
Sebagai contoh penerapan e-Gov di Dinas Pertanian dan Peternakan  Kab. Musi Banyuasin, yaitu Layanan Email dan Layanan Pengumuman proses pelelangan Pengadaan Barang dan Jasa yang diselenggarakan dalam bentuk LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik).  Layanan yang dilakukanpun hanya sebatas download formulir saja.
Berdasarkan hasil analisis penerapan/Inplementasi e-Gov dari fakta yang ada menunjukkan tingkat keberhasilannya masih rendah dan pelaksanaannya baru pada tahapan Penyediaan Informasi dan Publikasi Situs serta Interaksi masih kebanyakan hanya satu arah saja.

Read More

Rabu, 08 Oktober 2014

Review Studentsite terbaru UNIVERSITAS GUNADARMA



1. Dari segi tampilan studentsite dengan model yang terbaru lebih menarik daripada tampilan yang lama. Dengan tampilan yang rapih dan terlihat dinamis, sangat menarik perhatian user.


2. Untuk menu baru yang diatas sangat bagus. karena pada studentsite kemarin belum ada menu ganti password. Sehingga dari segi keamanan sangat bagus. mahasiswa bisa lebih menjaga hal privasi mengenai data mahasiswa dengan mengamankan mengganti password.


3. Pada tampilan mengupload tugas penulisan pun mengalami perubahan yang sangat baik. tampilan rapih tersusun. Dan tampilannya memudahkan user dalam melihat tampilan daftar tulisan yang sudah dibuat. karena pada tampilan sebelumnya sangat berantakan, dari font tampilan terlalu kecil.

Sejauh ini tampilan studentsite terbaru lebih bagus daripada sebelumnya, tapi masih ada beberapa menu yang belum bisa diakses, seperti menu blog belum bisa diakses ke menu blog yang dituju.



Read More

Rabu, 04 Juni 2014

Resensi Novel Perahu Kertas

  • Unsur Intrinsik Novel
    a.   Tema
    Tema yang diambil adalah Persahabatan
    b.   Alur
    Dilihat dari cerita Novel ini , termasuk alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa depan.
    c.   Sudut Pandang (Point of View)
    Sudut pandang adalah cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam Novel Perahu Kertas ini, sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga tunggal. 
    d.   Penokohan
    Penokohan pada novel ini digambarkan oleh pengarang denagn sangat jelas. Melalui cirri-ciri fisik maupun penggambaran sifat. Sifat tokoh yang digunakan adalah Protagonis dan Tritagonis.
    e.   Gaya Bahasa
    Bahasa yang digunakan dalam novel ini , adalah gaya bahasa yang mengikuti perkembangan zaman sekarang(modern) dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang sehingga novelnya dapat dengan mudah dimengerti.
    f.    Kelebihan dan Kekurangan Novel
    1.   Kelebihan Novel
    Novel dari Dewi “dee" Lestari yaitu “Perahu Kertas” sangat bagus dan menarik. Dimana dalam novel ini mengangkat tema persahabatan empat sekawan yang easy-reading dan heart-catcing untuk pembaca dari berbagai lapisan usia. Dikemas dengan bahasa dan pendeskripsian keadaan yang lugas tetapi penuh syarat akan nilai-nilai serta makna kehidupan. Tidak hanya bercerita tentang remaja, tetapi bercerita tentang dinamika kehidupan empat orang remaja serta korelasinya dengan lingkungan internal. Ditambah lagi dengan penggambaran setting waktu dan tempat yang sangan detail tetapi tidak berlebihan seakan membuat seolah kita ikut terlibat di dalamnya.
    2.   Kekurangan Novel
    Kekurangan dari novel ini yaitu cerita akhirnya menurut saya kurang jelas, masih menggantung sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi para pembacanya. 
  •  SINOPSIS NOVEL


Novel ini mengangkat tema persahabatan empat sekawan , dimana kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan merupakan sosok yang cerdas dan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.
Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung memiliki penampilan berantakan-eksentrik, namun ia memiliki imaginasi yang tinggi, ia juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu yaitu ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima di lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra.
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung. Mereka berempat akhirnya bersahabat karib. Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda, sesosok gadis yang senasib dengan keenan. Keduanya berbakat menjadi pelukis namun kedua orang tua mereka jugalah yang tidak setuju karena orang tua mereka berpendapat bahwa lukisan tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup. Karena merasa senasib, hubungan keduanya semakin dekat.
Namun, saat Kugy melihat hal itu, ia seperti cemburu namun ia juga berusaha untuk menampiknya. Toh, dia juga sudah punya cowok. Entah apa yang ada dibenak Wanda hingga ia mau melakukan apa saja demi menunjukkan rasa cintanya pada Keenan. Ia memang berhasil! Ia memang berhasil membuat Keenan menjadi kekasihnya sekarang. Saat mendengar bahwa Wanda dan Keenan sudah menjadi sepasang kekasih, Kugy seakan ditombak peluru tepat pada dadanya. Kugy tak tahu apa yang ia rasakan. Kugy bingung dengan perasaannya sendiri. Disatu sisi, ia memiliki Ojos kekasihnya, namun disatu sisi ia merasa ada special feeling buat Keenan. Ojos mulai merasakan perubahan sikap pada Kugy. Ia merasa Kugy sudah tak peduli lagi padanya. Hingga akhirnya, hubungan mereka kandas.
Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberi judul “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan.
Hubungan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Wanda berfikir, Keenan tak sepenuhnya mencintainya hingga mereka berdua menghadapi konflik besar dan akhirnya mereka kandas juga. Saat dua pasang kekasih itu tak lagi menjalin cinta. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan.
Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit” yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.
Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah dengan cepat dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu. Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy.
Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain. Walaupun Keenan melakukan "long-distance" dengan Luhde dan Kugy tidak bisa selalu bertemu tiap hari dengan Remi, hubungan cinta mereka baik-baik saja. Mereka merasa telah menemukan cinta masing-masing. Namun, hal tersebut tak bertahan lama. Luhde merasa hati Keenan tak sepenuhnya untuk dirinya dan Remi-pun juga merasa seperti itu. Dan pada akhirnya lukisan dan dongeng itu bersatu serta hati dan impian mereka bertemu.
Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.

Read More

Resensi Film Divergent

Lagi-lagi sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama hasil karya Veronica Roth, penulis muda yang saat ini berusia 25tahun. Divergent merupakan buku pertama dari sebuah trilogynovel sedangkan buku keduanya berjudul Insurgent dan buku ketiganya berjudul Allegiant.Divergent mampu memperoleh predikat New York Times Best Seller pada tahun 2011.

Cerita mengambil latar belakang kota Chicago yang kini menjadi sebuah negara akibat adanya peperangan di masa lalu. Untuk melindungi diri dari serangan negara lain maka dibangunlah benteng raksasa mengelilingi perbatasan Chicago dengan dunia luar.

Penduduk dibagi dalam tujuh kelompok yang terdiri dari lima kelompok resmi dan dua kelompok tidak resmi. Kelompok resmi ini biasa disebut dengan faksi yang ada dalam tatanan kehidupan masyarakat berdasarkan sifatnya, yang terdiri dari, Candor, Amity, Erudite, Dauntless danAbnegationCandor beranggotakan orang-orang yang jujur. Amity berisikan orang-orang yang cinta damai. Erudite merupakan tempat orang-orang pintar berada yang pekerjaannya adalah melakukan penelitian dan eksperimen. Dauntless merupakan kumpulan orang-orang yang berani sehingga pekerjaannya adalah polisi atau penjaga keamanan. Abnegation merupakan gabungan orang-orang yang punya sifat mementingkan kepentingan bersama sehingga pekerjaannya adalah menjalankan pemerintahan. Kelompok tidak resmi terdiri dari non faksi dan Divergent. Non faksi merupakan kelompok orang-orang buangan atau semacam gelandangan. Sedangkan Divergent merupakan kelompok orang-orang yang memiliki sifat dua atau lebih dari lima sifat yang ada pada kelompok resmi, misalnya orang yang mempunyai sifat Candor dan Amity.

Beatrice (Shailene Woodley) dan kakaknya yang bernama Caleb sudah menginjak usia remaja dan menurut aturan yang berlaku harus memilih kelompok mana yang sesuai dengan sifatnya. Mereka berdua tinggal bersama orangtuanya yang berada dalam kelompok Abnegation. Dididik untuk membantu dan menolong terhadap sesama manusia dan selalu mengalah. Semua orangtua berharap bahwa anaknya akan mengikuti jejak orangtuanya, demikian juga orangtua Beatrice dan Caleb.

Sebelum hari ‘H’ pemilihan maka diadakan tes untuk mengetahui sifat dasar dan kepribadiannya melalui simulasi alam bawah sadar. Hasil tes Beatrice cocok sebagai AbnegationDauntless sekaligusEredite sehingga masuk dalam kategori Divergent. Sang penguji menginformasikan bahwa sebagai seorang Divergent maka Beattrice harus merahasiakannya karena merupakan ancaman pada kelompok lainnya dan akan dicari-cari untuk dibunuh. Untuk itu sang penguji menyarankannya untuk memilih Abnegation saja dan merekayasa hasil tes dengan Abnegation.

Hari ‘H’ pemilihan sudah tiba, Caleb dipanggil untuk memilih dan ternyata pilihannya jatuh pada kelompok Erudite. Selanjutnya Beatrice dipanggil dan pilihannya jatuh pada kelompok Dauntless. Tentu saja kedua orangtuanya tampak kecewa karena ini berarti harus berpisah dengan anak-anaknya. Semboyan kepentingan faksi diatas kepentingan keluarga benar-benar membuat orangtuanya tidak berkutik.

Keputusan Beatrice telah dibuat dan bergabung dengan kelompok Dauntless. Tidak mudah untuk menjadi kelompok tersebut masih ada proses inisiasi dan eliminasi. Untuk bepergian harus berlarian mengejar kereta api yang berjalan dan untuk keluarnya harus melompat dari kereta api serta harus menjatuhkan diri dari gedung bertingkat. Setiap hari dalam pelatihan akan dinilai dan pada hari terakhir akan ada yang dieliminasi.

Beatrice kini berganti nama menjadi Tris dan mempunyai instruktur bernama Four (Theo James). Four sendiri merupakan anak dari Marcus seorang ketua Abnegation. Rupa-rupanya ada rasa saling ketertarikan diantara mereka berdua. Pelan namun pasti rasa itu memang ada walau dibatasi oleh peran jabatan masing-masing dan saling menutupi perasaan mereka.

Saat akan membuat tato, kebetulan Tris bertemu dengan pengujinya dulu. Penasaran akan hal itu Tris mendesaknya untuk menjelaskannya. Pengujinya mempunyai saudara yang hasil tesnya masuk kategori Divergent. Ketika ada yang tahu maka keesokan harinya saudaraya telah dibunuh sebab dia merupakan ancaman bagi kestabilan sistim yang telah ada.

Latihan setiap hari cukup berat. Bertarung satu lawan satu dengan teman sendiri dan harus ada yanakalah. Belajar menembak dan melempar pisau. Simulasi akan rasa takut yang dihadapi. Simulasi peperangan merebut bendera. Belum lagi adanya penghianatan dari temannya sendiri. Namun instruktur lain yang bernama Eric justru mengintimidasi Tris sehingga rangkingnya berada di zona eliminasi. Kondisi Tris memang lemah dibanding yang lain tetapi ia cepat belajar sehingga bisa keluar dari zona eliminasi.

Four yang tahu bila Tris seorang Divergent, mengajarinya untuk menjadi seorang Dauntlessterutama dalam ujian akhir yang akan dilihat oleh banyak orang. Seorang Dauntless akan menyelesaikan masalah dengan alat bukan dengan pikiran seperti yang selama ini dilakukannya. Walaupun selama ini memegang rekor tercepat dalam simulasi tetapi akan mengundang kecurigaan dari orang-orang dan akan tahu identitasnya. Artinya bila menyelesaikan ujian terlalu cepat maka akan ketahuan identitasnya namun bila menyelesaikan ujian terlalu lama maka tidak lulus. Akhirnya ujian dilalui dan dinyatakan lulus pada hari terakhir.

Tris sedikit curiga ketika melihat Jeanine (Kate Winslet) yang merupakan ketua Erudite berada di markas Dauntless dan sepertinya merencanakan sesuatu dengan ketua Dauntless. Tris juga mendengar selentingan bahwa Erudite akan melakukan kudeta terhadap Abnegation. Four juga menceritakan kecurigaannya karena banyak pengiriman barang dan memberikan contoh obat suntik yang bisa membuat orang terpengaruh dan menuruti kemauannya.

Tiba-tiba semua anggota dikumpulkan dan diberi suntikan pada leher dengan alasan sebagai alat pelacak. Tris berusaha menghindar namun keburu ketahuan oleh Eric dan akhirnya disuntik juga. Malam harinya Tris melihat suatu keanehan dimana teman-temannya bangun dan berpakaian perang seperti terhipnotis dan tidak sadar. Ia mengerti hal itu sebagai akibat suntikan sebelumnya. Dia berusaha mengikuti dengan pura-pura terhipnotis. Waktu berbaris tak disangka ada seseorang yang masih sadar dan mempertanyakan situasi itu tapi Eric tahu kalo orang itu Divergent dan langsung menembaknya.

Tugas mereka adalah menyerang kelompok Abnegation.Tris berusaha mencari Four dan kuatir kalo terhipnotis juga, untunglah Four tidak terpengaruh. Sadarlah Tris akan pertanyaannya selama ini, mengapa Divergent sebagai ancaman dan harus dimusnahkan. Jawabannya adalah karena Divergenttidak mempan terhadap obat baru tersebut yang dapat mempengaruhi pikiran dan menghipnotis tersebut.

Mereka berusaha menyelamatkan orangtua Tris, sayangnya kondisi rumah sudah kosong. Mereka bertemu dengan Eric dan ketuanya dijalanan, Eric mengejek Four “sangat disayangkan yang dulunya berprestasi di kelas sekarang menjadi robot kaku”. Four menahan emosi dengan diam tapi Eric sedikit curiga karena kalo terhipnotis pasti akan jalan lagi, bukannya malah diam. Ericpun menodongkan senjatanya kepada Four dan akan menembaknya. Tiba-tiba Tris menodongkan senjata kepada Eric. Demikian juga ketua menodongkan senjata kepada Tris dan Four menodongkan senjata kepada ketua. Eric berkata bahwa tidak mungkin Tris yang lemah berani menembakkan senjatanya. Tak diduga ternyata Tris menembak Eric dan terjadi perkelahian. Sayangnya perlawanan mereka sia-sia karena jumlah pasukan lebih banyak.

Mereka ditangkap, Four diangkut dengan mobil bersama Jeanine sedangkan Tris hendak dieksekusi tembak. Pada saat kritis menjelang ditembak tiba-tiba ada yang menolongnya, ternyata ibunya yang mantan kelompok Dauntless datang disaat yang tepat. Tembak-menembak terjadi, apa daya dua orang melawan jumlah yang banyak dan pada akhirnya sang ibu harus berkorban.

Tris berhasil menemui ayahnya dan adiknya serta ketua Marcus dan menceritakan tentang obat yang dapat mempengaruhi pikiran dan dapat dikontrol. Akhirnya Tris memutuskan untuk memusnahkan pusat kontrol yang berada di Dauntless. Caleb dan ayahnya serta Marcus ikut pergi. Mau tak mau mereka mengikti Tris yang tahu tempat masuknya dengan kereta api.

Tak diduga Tris menemukan Four yang sedang diikat. Sayangnya setelah dibebaskan, Four malah menyerang Tris sehingga terjadi perkelahian antara sepasang kekasih ini. Tris berusaha menyadarkan Four dan akhirnya berhasil walau sudah banyak luka pada diri Tris. Jeanine mengaktifkan pasukan untuk membunuh semua warga Abnegation tanpa ampun. Tris berusaha mencegah dan mengancamnya tetapi Jeanine tetap bersih keras tidak mau mengubahnya bahkan rela mati. Gertakan dan ancaman pasti tidak mempan. Tris akhirnya punya ide yaitu menyuntik Jeanine dengan obatnya sendiri dan memerintahkannya untuk membatalkan program pembunuhan dan sekaligus menghapus programnya. Jeanine pun menurutinya.

Pasukan tersadar dan tidak jadi membunuh warga yang sudah dikumpulkan dijalanan. Begitu juga Jeanine yang tersadar dan meratapi kegagalannya. Pasukan yang setia dengan Jeanine berusaha masuk gedung maka Tris dan Four serta Marcus dan Caleb yang masih selamat melarikan diri dengan kereta. Mereka  sekarang menjadi kelompok non faksi.

Penampilan Shailene Woodley biasa-biasa saja dan terlalu manis untuk menjadi seorang gadis petarung. Sedangkan Theo James bermain cukup lumayan dengan karakternya yang misterius.

Read More

© Nessa's Diary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena